ا (Alif)
Ada sesuatu yang mengganjal ketika berbicara tentang ia, sosoknya yang lembut diluar tetapi sangat kuat jika ditilik lebih dalam.
Namanya Bramantyo Alif Wardana, teman-temannya terpecah menjadi beberapa kelompok ketika memanggil namanya. Ada yang memanggilnya Tyo, ada yang memanggilnya Bram, dan ada yang memanggilnya Alif. Ketiga nama panggilan itu sama-sama ia respon, tetapi beberapa dari kami tau ia lebih suka ketika dipanggil Alif, dan aku termasuk yang memanggilnya Alif.
Ada cerita dibalik sikapnya yang terlihat lebih riang ketika dipanggil dengan nama Alif, dan cerita ini telah menyebar ke penjuru sekolah.
Cerita itu beredar bukan sebagai gosip yang berisik, melainkan sebagai bisik yang selalu berhenti setengah jalan, seolah semua orang takut memberi titik pada kalimatnya sendiri. Alif diketahui sebagai gay, kata itu tidak pernah benar-benar diucapkan lantang di kelas, tetapi hadir dalam tatapan yang terlalu lama, dalam jeda percakapan yang canggung, dalam tawa yang sedikit dipaksakan. Salah satu penyebabnya mungkin karena kami sudah di taraf SMA dan posisi sekolah kami berada di tengah kota, dimana hal-hal semacam orientasi seksual lebih dapat dinegosiasikan.
Ia tidak pernah mengumumkan siapa dirinya, namun ia juga tak pernah berusaha menutupi caranya mencintai seseorang dari teman pria kami. Pernah terlintas canda kecil di kepalaku, seandainya ia bukan gay, barangkali aku sendiri yang harus mengarungi dan menculiknya huehuehue...
Dan sebenarnya dari cerita tadi yang lebih sering dibicarakan justru pilihannya pada satu nama. Alif. Nama itu, kata orang, membuatnya terlihat lebih tenang. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya ketika nama itu meluncur dari mulut orang lain, bahunya turun sedikit, senyumnya lebih utuh. Seolah ia baru saja diizinkan untuk tampil sebagai manusia sepenuhnya. Dalam keramaian yang gemar memberi label, nama Alif menjadi ruang kecil yang ia rawat sendiri, tempat ia tidak harus menjelaskan apa pun.
Alif pernah bercerita pelan, nyaris seperti pengakuan yang hanya boleh didengar angin. Ia tumbuh dengan doa-doa yang dihafal sebelum tidur, dengan suara azan yang menandai waktu pulang, dengan keyakinan bahwa Tuhan selalu lebih luas dari penilaian manusia. Ketika ia menyadari dirinya berbeda, yang paling ia takuti bukanlah ejekan, melainkan kehilangan tempat, kehilangan hak untuk merasa masih memiliki rumah untuk pulang. Dipanggil “Alif” membuatnya merasa tetap terhubung pada sesuatu yang ia cintai sejak kecil, agama yang, meski sering terasa jauh, tetapi tak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Alif adalah huruf pertama dalam hijaiyah, huruf yang berdiri tegak sendiri. Kata guru mengajinya dulu, Alif melambangkan keesaan, permulaan, dan keteguhan.
“Aku suka huruf itu,” katanya suatu hari, “karena ia berdiri tanpa harus bersandar.”
Dalam nama itu, ia menemukan cara untuk tetap tegak, bukan melawan, bukan menantang, melainkan bertahan. Ia tidak meminta diterima sepenuhnya, hanya diakui keberadaannya.
Maka kami teman-temannya yang masih menaruh respect, memanggilnya Alif. Bukan sebagai pembelaan atau pernyataan sikap, tetapi sebagai penghormatan kecil. Di sekolah yang gemar menyederhanakan manusia menjadi satu kata, Alif mengajarkan kami bahwa seseorang bisa memuat banyak hal sekaligus, iman dan ragu, lembut dan kuat, takut dan berani. Dan barangkali, seperti huruf pertama itu, ia sedang mengajarkan kami tentang awal, bahwa memahami sesama selalu dimulai dari kesediaan untuk menyebut nama dengan benar.

